Loading

Rabu, 12 September 2012

TARI BANYUMASAN MODERN

Kelompok Tari Pring Serentet
Tari Gaya Banyumasan adalah salah satu gaya tari di Jawa Tengah yang masih tetap berkembang hingga saat ini. Tari gaya Banyumasan telah memiliki tempat di kalangan seniman dan para penikmat seni di wilayah Surakarta terutama di lingkungan ISI Surakarta. Tari Banyumasan sendiri sampai saat ini belum dikemas menjadi suatu paket tari yang dapat diajarkan kepada masyarakat luas baik seniman maupun masyarakat umum yang ingin mempelajari tari gaya Banyumasan Agar masyarakat dapat mempelajari tari gaya Banyumasan dengan mudah dan masyarakat luas dapat mempelajari ragam tari  banyumasan sehingga garapan tari paket ini dibuat dengan kemasan yang baru dan dengan perkembangan vokabuler gerak tari tanpa meninggalkan identitas gerak banyumasan itu sendiri.

Beberapa tarian Banyumasan :
1.      Lenggeran Gunung Sari 
Gunung sari adalah nama tempat, dimana penari lengger yang terkenal pada jaman itu, lahir dan dimakamkan. Tepatnya di wilayah kecamatan Wangon, di kelurahan Bantar, kabupaten Banyumas. Penari itu meninggal di daerah sokaraja, karena terbawa arus kali. Sampai di desa Kebagoran. Meninggalnya penari itu membuat tokoh lengger dari pesawahan (Rawalo), merasa kehilangan lalu untuk mengenangnya, dijadikanya geguritan gunungsari, dinamai Kalibagoran. Nama yang disesuai dengan meninggalnya penari lengger waktu itu di kali di desa Kebagoran. Sedangkan makamnya di desa bantar, disalah satu bukit. Bukit itu dinamai Gunungsari. Dengan meninggalnya penari itu ada salah satu kerabatnya yang bernama pak Samin hendak meneruskan. Dia lahir di desa Bantar, dia mengikuti jejak saudaranya sebagai penari lengger. Walaupun dia seorang pria tetapi setelah dia sudah berganti busana lengger tidak ada yang tau kalau dia adalah seorang pria. Karena bentuk tubuh, suara dan wajah sudah berganti seperti wanita, pak Saminpun laris manggung bahkan terkenal sampai di kabupaten Banjar, Kebumen, Purbalingga, Cilacap dan Brebes. Pak Samin adalah penari pria pertama yang memerankan diri menjadi lengger. Dia meninggal di desa Bonjok. Oleh karena itu di desa Bonjok sampai sekarang tidak diperbolehkan ada penari lengger wanita manggung disitu, kecuali lengger lanang/banci. Seiring berkembangnya jaman nama pak Samin penari lengger lanangpun hilang begitu aja, akan tetapi Mbah Tamiarji adalah salah satu tokoh/sesepuh lengger di desa Pemancangan, mengembangkan dan meneruskan jejak pak min dan saudaranya itu, dia merasa hal itu adalah hal yang sakral, maka pada setiap satu tahun sekali diadakan pementasan lengger lanang, untuk acara selamatan tanam padi. dengan iringan ketawang puspowarno minggah lancaran gunung sari diteruskan gunungsari geguritan atau yang dikenal sekarang gunung sari kali bagoran.
2. Baladewan 
      Baladewan diambil dari salah satu babak tari Tari dari daerah Banyumas yang menceritakan tentang semangat prajurit yang gagah, berani maju dalam medan perang. Tari ini dapat ditarikan baik oleh Perempuan maupun Laki-laki 
3. Senggot.
     Senggot merupakan sebuah lancaran dari Brebes yang ditirukan dalam lancaran Banyumasan dengan media alat musik bambu ( Calung ). Kata Senggot juga terdapat  pada bahasa lokal Banyumas yang berarti gayung / siwur yang terbuat dari bathok (tempurung) kelapa yang berpangkal panjang, Kata ini terdapat dalam parikan Bahasa Banyumas yang berarti senggot, atau ngegot (sebuah gerak pinggul). Tari secara visualisasi menggambarkan para waniya yang lincah dan perkasa, vokabuler gerak merupakan pengembangan dari vokabuler gerak tradisi Banyumasan dan Pasundan.   

4.  Kembang Lengger
     Sebuah tarian yang diilhami dari sebuah Novel karya Ahmad Tohari yang berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk”. Tari ini menggambarkan penari lengger yang menjadi primadona desa yang banyak digandrungi laki-laki. Tari ini didominasi dengan gerak yang “Erotis”. 

Tradisi Syawalan Rawa Jombor, Warga Berebut Gunungan Ketupat

puncak syawalan Klaten
KLATEN, Independent News Online ; Perayaan syawalan di Rowo Jombor Desa Krakitan Kecamatan Bayat Klaten, ditandai dengan kirab gunungan ketupat. Puluhan gunungan ketupat diarak dari alun-alun Klaten menuju bukit Sidhoguro untuk diperebutkan warga. Dalam dibanding tahun lalu, jumlah gunungannya ditargetkan meningkat. Sebab tidak hanya setiap kecamatan yang menyumbang, namun dari berbagai unsur/lembaga baik pemerintah maupun swasta.

Bisa dipastikan, seperti puncak acara Syawalan tahun sebelumnya (2011), dari pagi ribuan warga Desa Krakitan dan sekitarnya sudah tampak memadati Bukit Sidhogura guna ‘ngalap berkah’ dengan berebutan ketupat. Warga sudah memadati sekeliling lapangan mesti acara belum dimulai. Kondisi ini membuat panitia setempat harus berbuat ekstra untuk mengantisipasi warga yang seakan sudah tidak sabar untuk segera berebut ketupat.

Sementara banyak warga yang memang berniat mendapatkan ketupat agar bisa memperoleh berkah, ada beberapa oknum yang melakukan tindakan tidak terpuji. Usai mereka mendapatkan ketupat, langsung dilemparkan dan banyak yang terinjak-injak sehingga menjadikan ketupat yang notabene isinya dari beras tersebut menjadi ‘mubazir’ atau sia-sia.

Ketua panitia kegiatan Drs. Siswanto, MM di sela-sela kegiatan kepada wartawan mengatakan, kegiatan ini sudah dilaksanakan secara turun temurun sejak puluhan tahun lalu. Bahkan jauh sebelum Rawo Jombor ada. Kalau tahun-tahun sebelumnya dilaksanakan tiap seminggu setelah lebaran, kali ini hari keenam. Namun mengenai majunya waktu pelaksanaan ini tidak terlalu dipermasalahkan.

"Tahun lalu ada 30-an gunungan ketupat. Kali ini mestinya lebih meningkat, karena tiapkecamatan yang biasa mengirimkan satu buah gunungan, dan dari unsur lain seperti perusahaan daerah, swasta dan yang lainnya," kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Klaten, Drs. Sugeng Haryanto.

Sementara itu Kepala Desa Krakitan Drs. Sunudi mengungkapkan, awal mula diselenggarakan acara ini ketika disana tinggal seorang pemuka agama bernama Sayid Habib yang masih memiliki darah dari Kasunanan Surakarta. Ketika menyenggarakan syawalan, dia sengaja menyediakan ketupat yang dia bagikan pada masyarakat sekitar sebagai bentuk sedekah. Dipilihnya ketupat karena berasal dari kata 'Ngaku Lepat' (mengaku bersalah).

"Setelah itu, tiap bulan syawal masyarakat di sini selalu mengadakan kegiatan ini. Selain sebagai wujud syukur, juga bertujuan untuk meneruskan budaya dari leluhur. Masyarakat yakin, bagi siapa saja yang bisa mendapatkan ketupat tersebut akan mendapat berkah. Sehingga tidak sedikit warga yang lalu mengkramatkan ketupat tersebut," ungkapnya.

Makna Tradisi Syawalan


Makna Tradisi Syawalan

Syawalan bagi masyarakat Indonesia nampaknya semakin populer. Tradisi yang sering dilaksanakan setelah Sholat Idul Fitri ini semakin menjamur dan tidak hanya dilaksanakan oleh Umat Islam, namun juga masyarakat pada umumnya dalam bingkai keluarga, ikatan tertentu, kesamaan profesi, ataupun lembaga. Sebenarnya, apa yang mendasarinya? Berikut makna tradisi Syawalan yang sering menjadi landasan mereka dalam melestarikan tradisi ini.

Secara umum, ada beberapa makna yang terkandung dalam tradisi Syawalan yang saat ini sering kita temukan di tengah masyarakat.


Ajang saling memaafkan
Syawalan merupakan momen yang tepat untuk saling memaafkan agar hati kita kembali bersih, fitrah. Dengan saling berjabat tangan dan memaafkan secara tulus ikhlas, khilaf dan salah kita terhadap sesama akan luntur dengan sendirinya. 

Media silaturahim
Syawalan menjadi sebuah media silaturahim yang sangat efektif. Dengan Syawalan, ikatan persaudaraan antar peserta dapat semakin erat terjalin, terlebih jika dikemas dalam acara yang interaktif, ajang perkenalan pun menjadi lebih menarik dan menumbuhkan semangat persaudaraan yang mendalam.

Bertukar Informasi
Melalui acara Syawalan, beragam informasi dapat dibagi dan disalurkan ke penerima dengan efektif. Dalam lingkup keluarga, sering Syawalan dijadikan media penyebaran informasi tentang peluang kerja yang mungkin saja dibutuhkan oleh para anggota keluarga yang sedang mencarinya. Dengan hubungan kekeluargaan, bahkan ikatan kerja dapat saja terbentuk melalui media Syawalan.

Sarana koordinasi 
Syawalan juga sering dijadikan sarana koordinasi. Dalam lingkup keluarga besar, koordinasi ini sering berisi tentang rencana membangun pendopo di rumah bekas orang tua untuk dijadikan tempat bertemu dan berkumpul pada momen-momen tertentu, membagi jadwal merawat orang tua, hingga menentukan tugas anggota keluarga dalam melestarikan warisan orang tua.

Berbagi rizki
Sering Syawalan dijadikan ajang membagi rizki dari anggota keluarga yang sukses kepada anak-anak dari anggota keluarga lain yang secara finansial dibawah anggota tersebut. Hal ini umumnya dilakukan dengan membagi-bagi recehan kepada semua anak kecil yang dibawa dalam acara Syawalan tersebut.

Itulah beberapa makna tradisi Syawalan yang dapat Blogger Gundul simpulkan dari pengalaman serta wawancara selama ini. Sobat dapat saja menambahkan makna tersebut sehingga khasanah pengetahuan kita akan manfaat tradisi yang sangat positif ini dapat bertambah. Semoga bermanfaat. Salam.


Tradisi syawalan atau seminggu setelah hari raya idul fitri di pekalongan sangatlah unik. Salah satu tradisi yang terkenal sampai di luar daerah adalah tradisi lopisan atau krapyakan. Tradisi ini dilakukan setiap tahun di daerah krapyak kecamatan pekalongan utara kota Pekalongan. Warga berbondong-bondong untuk melihat lopis raksasa yang tiap tahun ukurannya bertambah besar. Pada tahun ini, lopis ini mempunyai ukuran diameter 150 cm, berat 185 kg dan tinggi 110 cm. Lopis ini biasanya dipotong oleh bapak walikota dan jajaran muspida lalu dibagikan kepada pengunjung yang datang.
Asal muasal tradisi syawalan ini adalah sebagai berikut, pada tanggal 8 Syawal masyarakat Krapyak berhari raya kembali setelah berpuasa 6 hari, dalam kesempatan ini, mereka membuat acara ‘open house’ menerima para tamu baik dari luar desa dan luar kota. Hal ini diketahui oleh masyarakat diluar krapyak, sehingga merekapun tidak mengadakan kunjungan silaturahmi pada hari-hari antara tanggal 2 hingga 7 dalam bulan Syawal, melainkan berbondong-bondong berkunjung pada tanggal 8 Syawal. Yang demikian ini berkembang luas, bahkan meningkat terus dari masa ke masa sehingga terjadilah tradisi Syawalan seperti sekarang ini.
Pemotongan lopis ini pertama kali dilakukan pada tahun 1965 oleh bapak Rohmat yang merupakan kepala daerah setempat. Lopis merupakan makanan yang terbuat dari ketan yang memiliki daya rekat kuat bila sudah direbus dan dimasak.
Lopis ini melambangkan persatuan dan kesatuan negara indonesia. Lopis ini dibungkus dengan daun pisang, diikat dengan tambang dan direbus selama 4 hari 3 malam. Butir-butir ketan tersebut tidak akan tercerai-berai dan akan tetap menjadi satu kesatuan. Lopis dibungkus dengan daun pisang karena pisang tidak akan mati sebelum berbuah atau dengan kata lain tidak mau mati sebelum berjasa atau meninggalkan sesuatu bagi generasi yang akan datang.
Pembuatan Lopis tersebut menghabiskan dana sebesar 3,5 juta rupiah. Dana tersebut didapatkan dari para donatur dan iuran warga setempat. Lopis ini juga pernah masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai lopis terbesar se-Indonesia.

Lain tradisi syawalan di demak yaitu dengan melarung sesaji kelaut, agar nelayan mendapat keselamatan dan dan mendapatkan hasil yang melimpah. menurut warga setempat.

Minggu, 02 September 2012

CARA MENGOBATI JERAWAT DENGAN OBAT TRADISIONAL


Pernah terfikir oleh anda,bagaimana kalau wajah anda tumbuh jerawat? atau bahkan dipenuhi dengan jerawat.Pasti anda langsung tidak percaya diri  dan mencari berbagai cara untuk menghilangkannya.Jerawat sebenarnya bukan masalah yang sangat besar dalam hidup anda,tapi bagi sebagian orang yang perduli dengan penampilan mereka justru akan menjadi masalah besar dalam hidupnya.Masalah jerawat umumnya banyak dihadapi oleh remaja.Tapi,orang dewasapun yang memiliki kulit berminyak atau yang memiliki kondisi kulit berpori-pori besar bisa terserang jerawat ini dikarenakan kulit yang berpori-pori besar yang berminyak akan menyebabkan kelenjar minyak tidak dapat keluar dengan sempurna.  

Ada sebagian wanita ketika akan mengalami menstruasi atau datang bulan atau bahkan sesudahnya akan tumbuh jerawat .Menangani kulit yang berjerawat tidak harus dengan perawatan atau dengan obat-obatan yang mahal.Saya mempunyai beberapa tips untuk mengatasi jerawat dengan cara yang alami dan tidak mahal tentunya.bahan –bahan yang digunakan merupakan bahan –bahan yng mudah didapatkan.

  • Kunyit Asam
Banyak orang yang mempercayai kalau kunyit asam dapat menghaluskan dan memperbaiki kondisi kesehatan  kulit karena didalam kunyit mengandung curcuminoid yang berperan dalam memperbaiki metabolisme dan jaringan dalam tubuh,termasuk juga kulit.Sediakan kunyit secukupnya,cuci bersih kemudain ditumbuk hingga halus.Nah,hasil tumbukan kunyit tersebut oleskan pada bagian yang berjerawat ,diamkan hingga semalaman dan bersihkan pada pagi harinya.cara ini bisa efektif jika anda melakukannya rutin setiap hari tapi dari pemakaian kunyit akan menimbulkan bekas kuning dimuka anda,dan ini pasti akan membuat anda merasa tidak nyaman bukan? Nah dibawah ini ada obat tradisional alternatife lain untuk mengatasi jerawat

  • Daun Sirih
Daun sirih dapat digunakan sebagai obat trdisional alternative selain kunyit,karena di dalam daun sirih mengandung antiseptik yang dapat mengeringkan jerawat yang sedang meradang.Caranya mudah sekali,daun sirih yang sudah dicuci bersih ditumbuk halus kemudian campurkan dengan air secukupnya dan disaring atau diperas.Ampas daunnya bisa anda gunakan masker di malam hari sedangkan  airperasannya  bisa anda gunakan untuk cuci muka dipagi hari.Atau jika anda merasa repot untuk menumbuknya anda bisa merebus daun sirih tersebut ,air dari rebusan daun sirih bisa anda oleskan pada daerah muka anda yang berjerawat.

Dengan Pemakaian secara rutin dan teratur ,jerawat anda akan berangsur – angsur mongering dan hilang.Gunakan secara teratur agar hasilnya lebih sempurna.Selamat mencoba

sumber : http://i-herbal.blogspot.com

Senin, 27 Agustus 2012

LEBARAN KETUPAT (BAKDO KETUPAT)

BAKDO KETUPAT



Tradisi bakdo kupat atau lebaran ketupat diadakan H+7 Idul Fitri sebagai penanda dan wujud syukur berakhirnya Puasa Sunnah 6 hari Syawal.
Tradisi lebaran ketupat mempunyai makna filosofis yang dalam, dimana ketupat merupakan simbol permintaan maaf dan simbol menjalin tali silaturahim.
Kupat diartikan sebagai ngaku lepat atau mengaku salah.
Pembungkus ketupat berupa janur diartikan sebagai nur (cahaya) yang melambangkan kondisi manusia dalam keadaan suci setelah mendapatkan pencerahan (cahaya) selama bulan Ramadhan.

Hari Raya Iedul Fitri atau yang lebih akrab disebut lebaran sangat kental dengan tradisi makan ketupat. Ketupat biasanya dibuat pada hari ke tujuh setelah lebaran atau tanggal 7 Syawal. Ketupat lebaran disajikan dengan beberapa menu pelengkapnya seperti opor ayam, sambal goreng cecek, rendang, dan lain-lain. Ternyata, tradisi ketupat lebaran tak hanya ada di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara seperti Malaysia, Brunei, Singapura, dan Filipina pun membuat ketupat di saat momen lebaran tiba.
Tak ada yang tahu pasti mengenai tradisi ketupat lebaran ini. Diperkirakan tradisi ini sudah ada sejak masuknya Islam di tlatah Jawa, yaitu sekitar tahun 1400-an. Bisa jadi, tradisi ketupat lebaran sudah ada pada zaman pra-Islam Nusantara dan berkembang ketika zaman penyebaran Islam oleh Walisongo. Hingga kini pun tradisi ketupat lebaran terus dilestarikan oleh para umat Islam, khususnya di Indonesia.
Ketupat dalam bahasa Jawa memiliki banyak makna. Ketupat disebutkupat yang berasal dari suku kata ku = ngaku(mengaku) dan pat = lepat (kesalahan), sehingga bisa diartikan sebagai mengaku kesalahannya. Arti lain dari sisi bahasa adalahkupatan (bahasa Jawa) berasal dari kata kaffatan(bahasa Arab) yang mengalami perubahan bunyi menjadi kupatan.Makna secara istilah yaitu merupakan simbolisasi berakhirnya bulan puasa yang berganti lebaran (fitri), hal ini sebagai penanda terhadap ke-Islaman manusia yang sudah sempurna. Ada pula yang mengartikan ketupat ataukupat dengan laku papat, yaitu empat perbuatan. Maksudnya ada empat perbuatan yang dilakukan pada bulan Ramadan sampai Syawal, yaitu puasa, tarawih, zakat, dan salat Ied.
Membuat ketupat sendiri tidaklah sulit. Hanya dibutuhkan daun kelapa yang masih muda atau biasa disebut denganjanur. Kemudian dua helaijanur dianyam menjadi kelontong ketupat yang siap diisi beras. Beras yang akan dijadikan isi dalam kelontong ketupat sebelumnya dicuci bersih terlebih dahulu, setelah itu di masukkan dengan ukuran dua pertiga bagian dari volume kelontong ketupat. Untuk menghasilkan kualitas ketupat yang padat dan kenyal, membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam untuk mengukusnya. Ketupat ini bisa tahan hingga 2 hari, setelah itu bisa dikukus kembali agar tidak basi.
Jangan khawatir jika tidak bisa membuat kelontong ketupat sendiri, karena banyak produsen yang menjualnya di pasar-pasar tradisional. Harganya relatif terjangkau, hanya Rp.4.000-Rp.5.000 per 10 biji. Bentuknya pun bermacam-macam, ada yang berbentuk belah ketupat, ada pula persegi dan persegi panjang, dan juga segitiga. Bagaimanapun, tradisi ketupat lebaran telah menjadi bagian dari budaya Nusantara, maka kita wajib untuk melestarikannya. Lebaran pun serasa tak lengkap jika tak ada menu ketupat untuk di hidangkan.

sumber : http://www.hellosolo.com/ketupat-lebaran

Rabu, 01 Agustus 2012

6 Tradisi Masyarakat Indonesia Sambut Ramadhan

Indonesia adalah salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Tidak saja kaya akan kekayaan alam, Indonesia juga kaya akan adat dan istiadat. Termasuk kekayaan tradisi menyambut kedatangan bulan Ramadan. Berikut enam tradisi yang digelar di beberapa daerah dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.
6 Tradisi Masyarakat Indonesia Sambut Ramadan
1. Dugderan
dugderan


Dugderan merupakan festival untuk menandai dimulainya ibadah puasa di bulan Ramadan di Kota Semarang. Dugderan dilaksanakan tepat 1 hari sebelum bulan puasa. Kata Dugder, diambil dari perpaduan bunyi bedug yaitu dug, dan bunyi meriam yang mengikuti kemudian diasumsikan dengan der. Dahulu, acara ini menjadi cara pemerintah daerah untuk memberi informasi kepada warganya bahwa bulan Ramadan telah datang. Dugderan saat ini berkembang menjadi sebuah pesta rakyat yang berpusat di Simpang Lima Semarang.
2. Sadran
nyadran
Sadran atau nyadran adalah tradisi masyarakat di beberapa lokasi di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk menyambut datangnya bulan Ramadan. Tradisi ini meliputi membersihkan makam leluhur atau keluarga, doa dan makan bersama. 

3. Padusan
padusan

Tradisi Padusan adalah ritual yang banyak dilakukan oleh warga Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan beberapa tempat lainnya. Kata padusan berasal dari kata bahasa Jawa 'adus', yang artinya mandi. Ritual yang dilakukan pada sehari sebelum Ramadan. Makna dari ritual ini adalah membersihkan jiwa dan raga saat memasuki bulan suci.

4. Meugang 
meugang

Meugang adalah tradisi menyambut bulan Ramadan yang dilaksanakan di Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Tradisi ini dilakukan dengan menyembelih kambing atau kerbau.
5. Jalur Pacu
jalur pacu
Tradisi Jalur Pacu dilaksanakan oleh masyarakat Riau dalam rangka menyambut bulan Suci Ramadan. Diawali dengan lomba dayung di sungai-sungai besar. Upacara ini diakhiri dengan Balimau Kasai atau bersuci menjelang matahari terbenam.

6. Balimau
balimau
Balimau adalah tradisi menyambut bulan Ramadan yang dilakukan oleh warga Sumatera Barat. Balimau, dalam bahasa Minangkabau artinya mandi disertai keramas. Makna melaksanakan Balimau adalah membersihkan jiwa dan raga untuk mulai memasuki bulan suci ramadan.

sumber : detik.com

TRADISI RAMADHAN DI SURABAYA

acara masjid agung surabaya

 RAMADHAN DI SURABAYA
Dalam rangka, menyambut bulan suci Ramadhan 1433 Hijriyah, Masjid Al Akbar Surabaya menggelar festival budaya dan tradisi Ramadhan, selama satu bulan penuh. Kegiatan yang dilakukan ini merupakan tradisi dan budaya umat Islam di Indonesia yang berangsur-angsur mulai punah, yang kini mencoba dilestarikan kembali di Jawa Timur.
Acara yang digelar mulai 20 Juli hingga 15 Agustus itu, menampilkan lomba patrol kreatif, hafalan Al Qur’an dan adzan anak, rebana, fashion religi anak, al banjari, dan lomba mewarnai tingkat TK A dan B, yang diikuti oleh seluruh masyarakat muslim di Jawa Timur.
“Kegiatan-kegiatan ini bertujuan untuk mendidik anak-anak agar tetap melestarikan budaya Islam yang saat ini sudah mulai tergerus oleh zaman,” terang Humas Masjid Al Akbar Surabaya, Helmy M Noor, Jumat (20/7).
Selain menggelar festival budaya dan tradisi Ramadhan, acara yang diresmikan Wakil Gubernur Jawa Timur, KH Syafullah Yusuf, selepas Sholat Jumat di halaman Masjid Al Akbar itu, juga membuka stand-stand sembako murah di halaman masjid.
“Tujuan, agar masyarakat usai menunaikan shalat di Masjid Al Akbar, bisa membeli kebutuhan-kebutuhan pokok yang terjangkau dengan isi kantong kita. Seperti kita ketahui, menjelang puasa dan lebaran, harga-harga kebutuhan pokok naik drastis. Nah, inilah maksud dan tujuan kita menyediakan stand-stand khusus di halaman masjid,” lanjut dia menerangkan.
Senada dengan Helmy, dalam sambutannya, Gus Ipul, sapaan akrab KH Syafullah Yusuf mengatakan bahwa tradisi dan Islam di tanah Jawa memang harus dilestarikan. “Kalau tidak, budaya-budaya Islam akan tergerus oleh zaman. Nah, kali ini Jawa Timur ingin menciptakan Ramadhan aman Lebaran nyaman, yaitu dengan cara meningkatkan ukhuwah Islamiyah serta memberikan pelayanan sembako murah, dengan menyediakan stand-stand semboka di halam masjid.” (Bs/era)

sumber : http://jaringradio.suarasurabaya.net

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More