Loading

Rabu, 12 September 2012

Makna Tradisi Syawalan


Makna Tradisi Syawalan

Syawalan bagi masyarakat Indonesia nampaknya semakin populer. Tradisi yang sering dilaksanakan setelah Sholat Idul Fitri ini semakin menjamur dan tidak hanya dilaksanakan oleh Umat Islam, namun juga masyarakat pada umumnya dalam bingkai keluarga, ikatan tertentu, kesamaan profesi, ataupun lembaga. Sebenarnya, apa yang mendasarinya? Berikut makna tradisi Syawalan yang sering menjadi landasan mereka dalam melestarikan tradisi ini.

Secara umum, ada beberapa makna yang terkandung dalam tradisi Syawalan yang saat ini sering kita temukan di tengah masyarakat.


Ajang saling memaafkan
Syawalan merupakan momen yang tepat untuk saling memaafkan agar hati kita kembali bersih, fitrah. Dengan saling berjabat tangan dan memaafkan secara tulus ikhlas, khilaf dan salah kita terhadap sesama akan luntur dengan sendirinya. 

Media silaturahim
Syawalan menjadi sebuah media silaturahim yang sangat efektif. Dengan Syawalan, ikatan persaudaraan antar peserta dapat semakin erat terjalin, terlebih jika dikemas dalam acara yang interaktif, ajang perkenalan pun menjadi lebih menarik dan menumbuhkan semangat persaudaraan yang mendalam.

Bertukar Informasi
Melalui acara Syawalan, beragam informasi dapat dibagi dan disalurkan ke penerima dengan efektif. Dalam lingkup keluarga, sering Syawalan dijadikan media penyebaran informasi tentang peluang kerja yang mungkin saja dibutuhkan oleh para anggota keluarga yang sedang mencarinya. Dengan hubungan kekeluargaan, bahkan ikatan kerja dapat saja terbentuk melalui media Syawalan.

Sarana koordinasi 
Syawalan juga sering dijadikan sarana koordinasi. Dalam lingkup keluarga besar, koordinasi ini sering berisi tentang rencana membangun pendopo di rumah bekas orang tua untuk dijadikan tempat bertemu dan berkumpul pada momen-momen tertentu, membagi jadwal merawat orang tua, hingga menentukan tugas anggota keluarga dalam melestarikan warisan orang tua.

Berbagi rizki
Sering Syawalan dijadikan ajang membagi rizki dari anggota keluarga yang sukses kepada anak-anak dari anggota keluarga lain yang secara finansial dibawah anggota tersebut. Hal ini umumnya dilakukan dengan membagi-bagi recehan kepada semua anak kecil yang dibawa dalam acara Syawalan tersebut.

Itulah beberapa makna tradisi Syawalan yang dapat Blogger Gundul simpulkan dari pengalaman serta wawancara selama ini. Sobat dapat saja menambahkan makna tersebut sehingga khasanah pengetahuan kita akan manfaat tradisi yang sangat positif ini dapat bertambah. Semoga bermanfaat. Salam.


Tradisi syawalan atau seminggu setelah hari raya idul fitri di pekalongan sangatlah unik. Salah satu tradisi yang terkenal sampai di luar daerah adalah tradisi lopisan atau krapyakan. Tradisi ini dilakukan setiap tahun di daerah krapyak kecamatan pekalongan utara kota Pekalongan. Warga berbondong-bondong untuk melihat lopis raksasa yang tiap tahun ukurannya bertambah besar. Pada tahun ini, lopis ini mempunyai ukuran diameter 150 cm, berat 185 kg dan tinggi 110 cm. Lopis ini biasanya dipotong oleh bapak walikota dan jajaran muspida lalu dibagikan kepada pengunjung yang datang.
Asal muasal tradisi syawalan ini adalah sebagai berikut, pada tanggal 8 Syawal masyarakat Krapyak berhari raya kembali setelah berpuasa 6 hari, dalam kesempatan ini, mereka membuat acara ‘open house’ menerima para tamu baik dari luar desa dan luar kota. Hal ini diketahui oleh masyarakat diluar krapyak, sehingga merekapun tidak mengadakan kunjungan silaturahmi pada hari-hari antara tanggal 2 hingga 7 dalam bulan Syawal, melainkan berbondong-bondong berkunjung pada tanggal 8 Syawal. Yang demikian ini berkembang luas, bahkan meningkat terus dari masa ke masa sehingga terjadilah tradisi Syawalan seperti sekarang ini.
Pemotongan lopis ini pertama kali dilakukan pada tahun 1965 oleh bapak Rohmat yang merupakan kepala daerah setempat. Lopis merupakan makanan yang terbuat dari ketan yang memiliki daya rekat kuat bila sudah direbus dan dimasak.
Lopis ini melambangkan persatuan dan kesatuan negara indonesia. Lopis ini dibungkus dengan daun pisang, diikat dengan tambang dan direbus selama 4 hari 3 malam. Butir-butir ketan tersebut tidak akan tercerai-berai dan akan tetap menjadi satu kesatuan. Lopis dibungkus dengan daun pisang karena pisang tidak akan mati sebelum berbuah atau dengan kata lain tidak mau mati sebelum berjasa atau meninggalkan sesuatu bagi generasi yang akan datang.
Pembuatan Lopis tersebut menghabiskan dana sebesar 3,5 juta rupiah. Dana tersebut didapatkan dari para donatur dan iuran warga setempat. Lopis ini juga pernah masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai lopis terbesar se-Indonesia.

Lain tradisi syawalan di demak yaitu dengan melarung sesaji kelaut, agar nelayan mendapat keselamatan dan dan mendapatkan hasil yang melimpah. menurut warga setempat.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More